Berikut materi tentang sejarah politik luar negeri indonesia dan peranan indonesia dalam organisasi internasional mulai dari KAA, ASEAN, PBB hingga GNB.

A. Politik Luar Negeri Indonesia

  • Landasan kebijakan politik luar negeri Orde Baru telah ditetapkan dalam Tap No. XII/MPRS/1966.
  • Menurut rumusan yang telah ditetapkan MPRS, politik luar negeri RI adalah bebas dan aktif, yaitu tidak mengikat diri pada salah satu blok ataupun pakta militer.

B. Wujud Pelaksanaan Politik Luar Negeri Indonesia

Sebagai wujud pelaksanaan politik luar negeri Indonesia, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.

  1. Menghentikan politik konfrontasi dengan Malaysia.
  2. Indonesia kembali menjadi anggota PBB pada tanggal 28 September 1966.
  3. Indonesia ikut memprakarsai terbentuknya Association of South East Asian Nations (ASEAN) pada 8 Agustus 1967.

C. Konferensi Asia Afrika (KAA)

Latar belakang KAA

  • Bangsa-bangsa Asia Afrika memiliki persamaan nasib dan sejarah, yakni sama-sama pernah dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa.
  • Semakin meningkatnya kesadaran bangsa-bangsa Asia-Afrika yang masih terjajah untuk memperoleh kemerdekaan.
  • Perubahan politik setelah Perang Dunia II berakhir, yaitu situasi internasional diliputi kecemasan akibat perlombaan senjata antara Blok Barat dan Blok Timur.
  • Di antara bangsa-bangsa Asia yang telah merdeka, masih belum terdapat kesadaran untuk bersatu.
  • Kepentingan politik luar negeri Indonesia untuk menggalang kekuatan dari negara-negara Asia-Afrika agar mendukung merebut Irian Barat.
  • Bangsa-bangsa Asia-Afrika tidak ingin terlibat dalam perang dingin.

Sejarah terwujudnya KAA

  • Terwujudnya KAA didahului oleh Konferensi Colombo dan Konferensi Bogor.

  • Konferensi Colombo dilaksanakan pada tanggal 28 April - 2 Mei 1954

  • Dihadiri oleh wakil dari 5 negara, yaitu

    • Indonesia : Ali Sastroamidjoyo
    • India : Jawaharlal Nehru
    • Pakistan : Mohammad Ali Jinnah
    • Birma: U Nu
    • Sri Lanka: Sir John Kotelawala
  • Konferensi Bogor dilaksanaan pada tanggal 28-31 Desember 1954

    Tujuan: sebagai kelanjutan dari Konferensi Colombo

Tujuan KAA

  1. Mengembangkan saling pengertian dan kerja sama antar bangsa-bangsa Asia-Afrika.
  2. Meninjau masalah-masalah hubungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan dalam hubungannya dengan negara-negara peserta.
  3. Mempertimbangkan masalah-masalah mengenai kepentingan khusus dari bangsa-bangsa Asia-Afrika.
  4. Meninjau kedudukan Asia-Afrika dan rakyatnya, serta memberikan sumbangan untuk meningkatkan perdamaian dan kerja sama internasional.

Pelaksanaan KAA

Waktu pelaksanaan: 18 - 25 April 1955.

Tempat: Gedung Merdeka, Bandung

Peserta KAA

Konferensi ini dihadiri oleh 29 negara (termasuk 5 negara sponsor), yaitu

  1. Indonesia
  2. India
  3. Birma (Myanmar)
  4. Pakistan
  5. Sri Lanka
  6. Afganistan
  7. Kamboja
  8. Laos
  9. Libanon
  10. Liberia
  11. Libya
  12. Nepal
  13. Filipina
  14. Saudi Arabia
  15. Republik Rakyat Cina
  16. Mesir
  17. Ethiopia
  18. Ghana
  19. Iran
  20. lrak
  21. Jepang
  22. Yordania
  23. Sudan
  24. Syiria
  25. Thailand
  26. Turki
  27. Vietnam Utara
  28. Vietnam Selatan
  29. Yaman

Hasil-hasil KAA

Konferensi Asia-Afrika menghasilkan beberapa keputusan antara lain:

  1. Kerja sama di bidang ekonomi.
  2. Kerja sama di bidang kebudayaan.
  3. Masalah hak asasi manusia.
  4. Masalah bangsa-bangsa yang belum merdeka.
  5. Mengusahakan perdamaian dan kerja sama di dunia.

Selain keputusan-keputusan di atas, KAA juga menghasilkan Dasasila Bandung (Bandung Declaration). lsinya adalah mengajak semua bangsa di dunia untuk hidup bersama dalam perdamaian dan menjalankan kerjasama dalam suasana persahabatan atas dasar sepuluh prinsip (dasasila).

Pengaruh KAA

  1. Berkurangnya ketegangan dan bahaya pecahnya peperangan yang bersumber dari persengketaan masalah Taiwan antara RRC dengan Amerika Selatan.
  2. Perjuangan bangsa-bangsa Asia-Afrika untuk mencapai kemerdekaan semakin meningkat.
  3. Politik luar negeri bebas aktif yang dijalankan Indonesia, India, Birma, dan Sri Lanka mulai diikuti negara-negara lain yang tidak masuk Blok Barat maupun Blok Timur.

D. Association of South East Asia Nations (ASEAN)

Latar belakang ASEAN

  • Faktor intern

    Lahirnya negara-negara baru di Asia Tenggara setelah berakhirnya Perang Dunia II.

  • Faktor ekstern

    Adanya kekhawatiran dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara oleh gerakan komunis yang berusaha menguasai seluruh Vietnam, Laos, dan Kamboja sebagai negara komunis.

Sejarah berdirinya ASEAN

Deklarasi ASEAN ditandatangani pada 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh utusan dari 5 negara di kawasan Asia Tenggara. Kelima tokoh yang menandatangani Deklarasi ASEAN adalah:

  • Indonesia : Adam Malik
  • Malaysia : Tun Abdul Razak
  • Singapura : S. Rajaratnam
  • Filipina : Narsisco Ramos
  • Thailand : Thanat Khoman

Kelima negara di atas merupakan anggota ASEAN pada awal berdirinya. Saat ini, anggota ASEAN sudah bertambah 5 negara, yaitu Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja.

Tujuan ASEAN

  1. Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, serta perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.
  2. Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional.
  3. Meningkatkan kerja sama yang aktif serta saling bekerjasama dalam masalah ekonomi, sosial, budaya, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi.
  4. Saling memberikan bantuan dalam bentuk sarana-sarana latihan dan penelitian dalam bidang-bidang pendidikan, profesional, teknik,dan administrasi.
  5. Bekerja sama dalam meningkatkan penggunaan pertanian serta industri, perluasan, perdagangan, komoditi internasional, perbaikan sarana-sarana pengangkutan, komunikasi, dan peningkatan taraf hidup rakyat.

Peranan Indonesia dalam ASEAN

  • Indonesia termasuk salah satu negara pemrakarsa berdirinya ASEAN.
  • Indonesia membantu pihak-pihak yang bersengketa untuk mencari penyelesaian dalam masalah lndocina.
  • Indonesia adalah negara penyelenggara KTI pertama ASEAN yang berlangsung di Denpasar, Bali.
  • Indonesia ditunjuk sebagai tempat kedudukan Sekretariat Tetap ASEAN.

E. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

Proses terbentuknya PBB

Terbentuknya PBB merupakan perjalanan panjang dari serangkaian pembicaraan yang menghasilkan naskah dan kegiatan-kegiatan, antara lain:

  • Piagam Atlantik,
  • Konferensi Washington,
  • Konferensi Moscow, dan
  • Konferensi San Fransisco.

Tujuan PBB

  • Memelihara perdamaian dan keamanan dunia.
  • Mengembangkan hubungan persahabatan antar-bangsa.
  • Mengembangkan kerja sama internasional dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi, sosial, budaya, dan kemanusiaan. Memajukan dan menghargai hak asasi manusia serta kebebasan atau kemerdekaan fundamental tanpa membedakan warna, kulit, dan jenis kelamin, bahasa, dan agama.
  • Menjadikan pusat kegiatan bangsa-bangsa dalam mencapai kerja sama yang harmonis untuk mencapai tujuan PBB.

Peranan Indonesia terhadap PBB

Secara tidak langsung, Indonesia ikut menciptakan perdamaian dunia melalui kerja sama dalam Konferensi Asia-Afrika, ASEAN, maupun Gerakan Non Blok.

Secara langsung, Indonesia mengirimkan Pasukan Garuda sebagai sumbangan terhadap PBB untuk menciptakan perdamaian dunia.

Pada 1985, Indonesia membantu PBB memberikan bantuan pangan ke Ethiopia ketika dilanda bahaya kelaparan.

Indonesia pernah dipilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

F. Gerakan Non Blok (GNB)

Latar belakang berdirinya GNB

  • Diilhami oleh KAA di Bandung, tahun 1955.
  • Adanya krisis Kuba, yaitu Uni Soviet membangun pangkalan peluru kendali secara besar-besaran di Kuba.
  • Ketegangan antara Blok Barat dan Blok Timur.

Tujuan GNB

Gerakan Non Blok bertujuan untuk meredakan ketegangan dunia sebagai akibat pertentangan antara blok Barat dan blokTimur.

Peranan Indonesia dalam GNB

  1. Ikut memprakarsai berdirinya Gerakan Non Blok dengan menandatangani Deklarasi Beogard.
  2. Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan KTT Gerakan Non Blok X yang berlangsung pada tanggal 1-6 September 1992 di Jakarta.